Padepokan-padepokan di Indonesia ini Sempat Menggegerkan Masyarakat

Padepokan merupakan definisi dari pemuda-pemuda ndepok yang berarti tempat untuk berguru. Di Indonesia, banyak padepokan yang mengajarkan beberapa ajaran agama Islam. 

Hal itu dikarenakan sebagian besar penduduk di Indonesia beragama Islam. Namun, padepokan-padepokan dibawah ini sempat menggegerkan masyarakat. 

Berikut adalah nama-nama padepokan yang sempat menggegerkan masyarakat di Indonesia.

1. Padepokan Bumi Arum/ Santri Luwung
Padepokan yang berlokasi di Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen tepatnya di propinsi Jawa Tengah ini sempat dibakar oleh massa dari wilayah sekitar. Aksi massa ini dilakukan karena Pasujudan Santri Wulung tersebut dianggap telah mengajarkan aliran sesat kepada murid-muridnya sehingga padepokan ini dinilai tidak wajar. Anto Miharjo yang merupakan pemilik padepokan ini sudah lama ditentang dan diprotes oleh masyarakat setempat. Selain itu, masyarakat juga sudah sering memperingatkan tentang segala kegiatan yang telah dilakukan di padepokan tersebut. 
Pada puncak masalah, masyarakat juga sempat membakar bangunan berupa pendapa yang difungsikan sebagai pusat penyampaian ajaran dalam padepokan tersebut. Menurut tuduhan yang tersiar, ajaran padepokan ini dianggap menyimpang karena mewajibkan para santri berendam di sungai tanpa sehelai pakaian yang dikenakan sekalipun. Tapi, pihak padepokan telah menyangkan atas tuduhan tersebut. Pihak padepokan menyatakan bahwa selama ini para santri diajarkan untuk menghafal Al Quran. Mereka menyatakan bahwa warga diprovokasi oleh adanya pihak tertentu yang bersengketa dengan pemilik padepokan tersebut.

2. Padepokan Syekh Sangga Bintang
Pada awal Agustus 2016 lalu, warga sempat diresahkan dengan adanya Padepokan Syekh Sangga Bintang Pratama yang berlokasi di Kampung Waru, lebih tepatnya di Desa Medalsari, Karawang, Propinsi Jawa Barat. Warga sempat kuatir dengan paham dan kepercayaan yang diajarkan di padepokan ini. Pasalnya, pengikut mereka dijanjikan bisa masuk surga hanya dengan membayar sebesar dua juta rupiah saja. 
Tidak hanya itu saja yang menyimpang, pengikut ini juga mengganti syahadat dengan cara mengubah nama Nabi Muhammad SAW dengan nama Mujim yang merupakan nama dari pemimpin aliran tersebut. Mujim sempat pernah diusir oleh warga setempat karena mengaku sebagai nabi.  Ia mengatakan kepada pengikutnya bahwa sholat di rumahnya sama dengan sholat di Masjid Nabawi. Pasalnya, dia meyakini bahwa air zam-zam sudah dipindah di sumurnya. Hal inilah yang membuat warga geram sehingga membakar rumahnya dan melaporkan ajaran sesatnya tersebut kepada kepolisian dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

3. Padepokan Gatot Brajamusti
Sebelumnya para netizen diresahkan dengan kabar yang berkaitan dengan kasus Reza Artamevia yang sempat menjadi salah satu murid padepokan Gatot Brajamusti. Pemilik padepokan ini memang sempat menjadi guru spiritual bagi sejumlah kalangan artis terkenal lainnya. Oleh karena itu, Gatot Brajamusti sendiri juga pernah menjadi artis dalam film DPO dan sempat merilis album musik yang berjudul Tunjukkan Jalan Yang Lurus. 
Pada tanggal 29 Agustus 2016, Gatot Brajamusti ditangkap oleh sekelompok Tim Gabungan Merah Putih, Kepolisian Resor Lombok Barat dan Kepolisian Mataram karena kepergok saat melakukan pesta sabu-sabu di salah satu hotel ternama di Lombok. Ia ditangkap bersama istrinya-Dewi Aminah dan juga penyanyi terkenal-Reza Artamevia. Gatot sendiri telah berdalih bahwa sabu-sabu tersebut dianggap sebagai asmat atau makanan untuk jin peliharaannya.

4. Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi
Baru-baru ini netizen dan warga juga dihebohkan dengan kasus Padepokan milik Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Dimas Taat Pribadi selaku pimpinan Padepokan yang terletak di Dusun Cengklek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur ini mengaku dapat menggandakan uang dari kemampuan ghaib yang dimilikinya sebagai kharomah dari Allah. Kasus ini mulai berjalan pada bulan Februari 2016 lalu dengan tindakan penipuan sebesar 25 miliar rupiah yang dilakukan oleh Kanjeng Dimas. Ia mengaku dapat menggandakan uang tersebut dari bantuan jin dan ilmu yang dimilikinya. Ia meyakini bahwa kesaktian ini sudah ia miliki sejak tahun 2006 lalu. 
Saksi yang bernama Abdul Gani ini pun tak bisa menuhi panggilan Diektorat Reserse Kriminal Umum Polda Jatim karena ia diketahui sudah tewas akibat dibunuh dengan cara berencana pada tanggal 13 April 2015 lalu di padepokan tersebut. Kasus ini masih berjalan karena Dimas Kanjeng ditetapkan sebagai otak pembunuhan dalam kasus ini. (Chandra)


Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Back to top