Museum Fatahilah, Wisata Sejarah yang Bisa Membuatmu Merinding

Jakarta kota menjadi tempat destinasi wisata berbagai masyarakat dari luar daerah. Salah satu yang paling diminati selain Monumen Nasional adalah wisata Kota Tua. Wisata yang menyuguhkan bangunan-bangunan klasik jaman dahulu dengan sentuhan yang tidak pernah berubah dari tahun ke tahun membuat kita serasa berada di jaman Penjajahan Belanda. Bedanya adalah kita tidak perlu takut terkena peluru dan bom ketika asik memandangi berbagai bangunan disana.

Salah satu yang menarik perhatian di kota tua adalah sebuah museum. Museum ini berada tepat di pinggir jalan. Ya, Museum Fatahilah atau yang memiliki nama resmi Museum Sejarah Jakarta. Tampak dari depan, museum ini hanyalah sebuah bangunan tua nan klasik seperti bangunan-bangunan lain nya di kota tua, namun sebenarnya bangunan ini memiliki sejarah yang bisa membuat bulu kuduk kita merinding jika mendengarnya. Let’s check this out.

Gedung museum Fatahillah bernama resmi Museum Sejarah Jakarta-pertama kali dibangun tahun 1620 oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen sebagai gedung Balai kota Batavia VOC. Di depan museum ini terdapat sebuah Meriam dengan nama Meriam si Jagur. Meriam ini adalah meriam yang dimiliki oleh Portugis yang berhasil direbut oleh Belanda pada tahun 1641. 

Museum ini dahulu adalah saksi bisu pembantaian yang terjadi di jaman penjajahan Belanda. Etnik Tionghoa yang menjadi sasaran dari  kebrutalan penjajah. Ribuan orang Tionghoa diikat di depan museum ini, kemudian dari jendela balai kota, gubernur memberi kode untuk melakukan eksekusi. Pembataian itu dikenal dengan nama “Geger Pacinan”. Dalam peristiwa ini di kira-kira sekitar 10.000 orang keturunan Tionghoa dibantai. 

Pembantaian ini diduga dipicu oleh isu-isu politik dan ekonomi yang pada saat itu masih di dominasi oleh Belanda. Yang tidak kalah menarik perhatian dari museum ini adalah bahwa museum ini bukan hanya berisi benda-benda peninggalan jaman penjajahan Belanda, namun juga terdapat penjara bawah tanah yang masih memiliki suasana angker. Di museum ini, penjara bawah tanah dibagi 2, yaitu penjara wanita dan penjara laki-laki.

Di penjara wanita suasana yang akan ditemui pertama kali masuk adalah Pengap. Di ruangan sempit itu, bahkan langit-langit nya pun rendah, yang bisa kita rasakan hanyalah kurangnya udara di dalam. Entah karena sugesti bekas penjara atau bagaimana, jika kita memasuki penjara wanita bawah tanah ini, yang akan kita rasakan adalah kengerian membayangkan dahulu kala di ruangan kecil nan rendah itu terdapat puluhan bahkan mungkin ratusan wanita. Wanita-wanita tersebut tidak diberikan makan ataupun minum selama di dalam penjara. Bahkan banyak yang mati di dalamnya. Di penjara wanita ini juga terdapat genangan air. Ini membuat suasana angker semakin menjadi.
ruang dalam penjara wanita
Atmosfer yang tidak jauh berbeda juga dapat ditemukan di penjara laki-laki. Penjara ini memang sedikit lebih besar dibanding dengan penjara wanita. Di sini terdapat bola-bola besi yang pada jaman dahulu digunakan untuk merantai kaki para narapidana. Masuk ke dalam nya membuat para wisatawan merinding, seperti tersugesti mencium bau anyir darah dari orang-orang yang mati di dalamnya.
ruang dalam penjara laki-laki
Ketika masih dipakai sebagai penjara bawah tanah, saat air laut pasang maka penjara yang berisi ratusan makhluk hidup tersebut akan terendam bersama dengan semua yang manusia yang ada di dalamnya. Sampai sekarang tidak banyak perbaikan dan pembersihan yang dilakukan oleh petugas. Hal ini benar-benar membuat atmosfer penjara bawah tanah benar-benar mencekam.

Jadi guys, jika libur sempatkan diri untuk berkunjung ke museum Fatahilah ini, bukan sekedar wisata tapi juga untuk menyadarkan kita bahwa perjuangan mempertahankan Bangsa Indonesia dan merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah bukanlah hal yang mudah. Ada baiknya jika kita bisa sangat menghargai dan menghormati jasa mereka. Jika dulu mereka tidak berjuang sedemikian besar, maka tidak menutup kemungkinan bahwa kita pun akan merasakan dingin nya dinding penjara bawah tanah bahkan jika tidak  tidak bersalah sekalipun.

Jaman sekarang tidak perlu lagi angkat senjata untuk melawan penjajah. Belajar yang rajin dan harumkan nama bangsa merupakan contoh untuk menghargai pahlawan yang berjuang pada masanya. Jangan justru membuat bangsa menjadi terpecah belah dan menyulut perpecahan sesama bangsa Indonesia. (dwinta)


Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Back to top