Menikmati Wisata Edukatif Petik Madu di Lawang, Jawa Timur

Bagaimana rasanya jika para wisatawan dapat memanen sendiri hasil panen dari lebah berupa madu? Wah, mungkin wisata seperti ini tergolong unik. Alasannya, kita sering mendengar wisata panen yang lain seperti wisata petik buah, wisata tanam bunga atau wisata bercocok tanam. Nah, wisata edukatif petik madu ini memang lain dari pada yang lain. 

Disini, wisatawan juga diajak bagaimana caranya beternak lebah hingga dapat menghasilkan madu. Yuk, kita simak apa saja yang ada di wisata edukatif petik madu.

Asyiknya berwisata sambil belajar dengan memanen madu
Wisata petik madu yang berlokasi di Lawang- Jawa Timur milik Pak Hariyono ini mencoba memperluas lahan bisnis panen madu ke lingkup yang lebih luas. Cara ini dilakukan agar para wisatawan bisa ikut terjun langsung bagaimana beternak lebah hingga dapat menghasilkan madu. Wisata petik madu ini biasa disebut dengan Agro Tawon. 

Di tempat tersebut, pengunjung akan disambut dengan hamparan bunga bewarna kuning yang sangat luas. Selain itu, disana juga terdapat aula tanpa dinding yang berada di tengah lokasi wisata. Di tempat itulah biasanya pengunjung diperkenalkan semua pengetahuan yan berhubungan dengan lebah beserta seluk beluknya. Tidak hanya itu saja, wisatawan juga diajak menuju lapangan terbuka yang memiliki deretan Gazebo. Di lokasi itu juga wisatawan akan melihat puluhan rumah lebah atau yang disebut juga dengan Stup.

Jenis-jenis madu yang diproduksi
Ada beberapa macam madu yang bisa didapatkan dari hasil wiata petik madu. Tidak hanya madu biasa saja yang dihasilkan di tempat ini tetapi juga produk lain seperti Royal Jelly, Malam/lilin dan Bee Pollen. Uniknya, di tempat wisata ini juga memproduksi madu anti alergi yang dapat digunakan sebagai obat. Madu tidak harus dihasilkan dari lebah seperti halnya Madu Klenceng. Madu jenis tersebut memang dihasilkan dari lebah tetapi ukurannya lebih kecil. 

Letak perbedaanya terdapat pada rasanya. Rasa yang dihasilkan oleh Madu Klenceng memiliki unsur rasa sedikit kecut atau masam. Madu yang sudah dikemas di dalam botol ini biasanya dijual antara 75 ribu sampai 150 ribu rupiah. Harga ini memang sebanding dengan keaslian madu tersebut, melihat proses pengambilan madu yang lumayan panjang dan sedikit rumit.

Mengenal lebah lebih dekat
Lebah yang dibudidayakan di dalam tempat ini adalah lebah jenis Apis Cerana atau disebut juga dengan Apis Melifiera. Lebah jenis ini sangat cepat dalam proses reproduksinya. Oleh karena itu biasanya pengelola menyiapkan sarang buatan yang disediakan untuk mempersingkat proses produksi lebah. Proses mempercepat produksi lebah ini memang disengaja daripada harus menunggu lama ketika lebah harus mencetak sarangnya sendiri. 

Merasakan manisnya madu langsung dari Stup (rumah lebah)
Jika penasaran dengan segar dan manisnya madu yang dihasilkan, pengunjung bisa mencoba menyeruput madu langsung dari Stup atau rumah lebahnya. Kita bisa mencicipi manisnya madu mulai dari sepuluh ribu per potongan stup tersebut.

Membuat lilin dari ampas madu
Ternyata di tempat ini memaksimalkan semua kegunaan madu hingga tidak menyisahkan sampah atau limbah sekalipun. Satu-satunya yaitu dengan cara membuat lilin. Ampas madu ini dipanaskan hingga cair dan meleleh tanpa minyak. Beberapa saat kemudian, cairan ini didiamkan hingga suhunya verubah menjadi hangat. 

Jika cairan sudah dirasakan hangat, maka kita bisa mencelupkan tangan ke dalam cairan tersebut. Setelah itu, masukkan tangan kita yang berselaput lilin ke dalam air dingin. Secara otomatis, kita bisa membuat bentuk lilin yang unik dari cetakan tangan kita sendiri.

(ditulis oleh Chandra WH dari adaptasi dari artikel kompasiana, narasumber: Teguh Hariawan) 



Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Back to top