Alat Tulis Zaman Dahulu ini Meninggalkan Banyak Kenangan

Pernahkah kita berpikir sejenak bahwa semua kenangan terkdang berlalu begitu saja? Apalagi kita masih ingat kalau masa-masa sekolah adalah masa yang paling menyenangkan di saat kita masih menginjak SD atau masa-masa bermain. Alat-alat tulis ini mampu membawa kita ke masa-masa sekolah dimana kita masih mengidamkan alat tulis tersebut agar dapat memilikinya. Yuk, kita intip alat-alat tulis apa saja itu.

1. Penghapus Bolpoin
Penghapus ini tidak seperti penghapus biasanya. Permukaan penghapus ini sedikit lebih keras dan kaku. Biasanya siswa menggunakan penghapus ini saat salah menulis sesuatu dengan bolpoin. Dulu, anak-anak yang memiliki type-X hanya beberapa. Salah satu teman yang bisa membeli type-X dianggap sebagai anak yang kaya, padahal juga biasa saja ya teman-teman kalau hal ini terjadi di masa ini. 
Untuk itu, banyak yang menggunakan penghapus ini sebelum adanya type-X. Tapi ingat! hati-hatilah dalam menggunakan penghapus ini karena jika kita bolak-balik menghapus tulisan, kertasnya bisa tipis dan akhirnya sobek tak berbekas hehe. 

2. Cermin rautan
Kita pasti masih punya benda ini karena benda ini masih beredar di pasaran hingga sekarang. Bentuknya yang bulat dan unik serta harganya yang murah membuat anak-anak banyak yang membelinya. 
Dahulu, cermin rautan ini juga dipakai anak-anak untuk bermain senter-senteran yaitu dengan cara memantulkan cermin rautan pada sinar matahari kemudian digoyang-goyangkan. Lebih parahnya lagi, anak-anak lelaki biasanya menempelkan cermin rautan ini diatas sepatu untuk melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat, jangan ditiru ya adik-adik!

3. Kertas Karbon
Dulu teman-teman menggunakan kertas karbon sebagai fotokopi mainan. Biasanya kertas karbon diletakkan diantara kedua kertas yang ada di dalam buku lalu digambar dan dicoret-coret sesuai keinginan. Jika gambar tercetak pada kertas berikutnya, hasil karya kita dianggap sukses. Kadang-kadang teman kita memamerkan kertas karbon itu kepada teman yang lain agar dia juga ingin memiliki kertas karbon tersebut. 
Momen yang paling tidak bisa dilupakan adalah saat menjiplak gambar tokoh disney dengan menggunakan kertas karbon. Jika gambar tercetak sempurna, kita akan memamerkan gambar tersebut kepada teman yang lain bahwa kita bisa menggambar kartun dengan bagus. Risikonya, jari-jari kita menjadi kotor sehitam arang. 

4. Penghapus huruf
Masih ingat dengan penghapus bertuliskan aneka huruf A sampai Z? Biasanya penghapus ini juga disertakan gambar-gambar lucu seperti gambar kartun yang berawalan huruf sama seperti Q untuk Queen, K untuk King, A untuk Apple dan sebagainya. 
Penghapus-penghapus ini biasanya dijual dengan harga terjangkau yaitu Rp 100 di tahun 90-an. Penghapus ini keren-keren sehingga berupaya terus untuk mengoleksinya. Tapi, sayang jika penghapus ini digunakan untuk menghapus, alhasil tulisan kita menjadi kotor dan hitam seperti dihapus dengan jari.

5. Pensil isi ulang
Pensil isi ulang ini digunakan dengan cara menyusun isi pensil yang lancip dan membuang isi pensil yang tumpul sampai seterusnya. Pensil ini banyak digemari anak-anak pada masa itu. Anak-anak biasa menjulukinya dengan nama pensil susun. Isi pensil susun ini bewarna-warni. Ada juga refil isi ulang pensil yang dijual secara terpisah. 
Jika di zaman sekarang pensil ini masih ada, pasti peminatnya sudah gak banyak seperti dulu lagi soalnya sudah bersaing dengan pensil mekanik yang simple. Jika zaman sekarang masih harus menyusun isi pensil ini berulang-ulang akan sangat melelahkan kecuali jika ada yang ingin melepas kerinduan di masa itu.

6. Type-X  Kuas Saput
Kehadiran type- X kuas saput jaman sekarang sudah tidak ada sejak hadirnya type-X botol atau type- X stiker. Dahulu, teman kita yang memiliki type- X kuas saput ini dianggap orang mampu. Tapi, tahukah kamu bahwa jaman dahulu anak-anak perempuan tidak menggunakan type- X ini sebagai penghapus melainkan sebagai kutex kuku bukan? Hayooo yang pernah nglakuin ngaku. 
Itulah beberapa alat tulis jaman dahulu yang mempunyai kenangan unik. Bagaimana dengan kalian? (Chandra WH) 


Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Back to top