Hal-hal ini Bisa Bikin Cerpenmu Lolos di Meja Redaktur

Kamu suka baca cerpen yang ada di koran atau majalah? Pun, bertepatan kamu juga hobi nulis? Pasti sering kepikiran dong seandainya nama kamu muncul di sana, pasti rasanya luar biasa banget. Begitu upload foto ke media sosial langsung bertebar kata selamat yang bikin kamu semangat dan tentunya karya yang dimuat jadi semacam punya kebanggaan tersendiri. 

Namun, terkadang ekspektasi di atas tidak sesuai kenyataan. Karya yang kamu tulis dan kirim ternyata tidak berkabar hingga berbulan-bulan.

Hal paling sedih tentunya ketika mendapat surat penolakan. Ambil tisu! Berhenti bersedih dan lakukan hal-hal ini.

1. Pelajari EYD
EYD atau ejaan yang disempurnakan adalah hal penting ketika mengirim tulisan. Redaktur tidak akan repot-repot membaca tulisan yang sejak di paragraf awal sudah buruk secara ejaan. Semisal dalam penulisan di- dan ke- untuk kata tempat yang mestinya dipisah kamu gandeng. Atau yang lebih parah kamu masih menulis dengan gaya alay, contoh: “AkU, mAs1h mnCintaImo3, Bang Sl4MeT,” ucap HaYatie terSedu-sedu. 

Redaktur yang sudah pusing dengan banyaknya cerpen yang masuk makin frustasi baca tulisanmu jika seperti itu.  Biasakan pula ketika menulis status di media sosial dengan tidak menyingkat kata, hal ini membantu kamu mengurangi tingkat typo dalam menulis. Untuk EYD kamu bisa membuka kembali buku pelajaran di sekolah atau mencari sumber refrensi yang tepat.

2. Jangan sampai salah masuk kamar
Sungguh tidak lucu kalau kamu sampai salah kamar ketika mengirim cerpen. Inilah pentingnya kamu memperlajari medianya sebelum mengirim. Tidak lucu jika kamu menulis cerita dewasa dan mengirimnya ke majalah anak, begitupun sebaliknya. Agar lebih mudah mendapatkan nyawa cerpen yang biasa dimuat kamu bisa membaca minimal 4-5 cerpen yang pernah dimuat di sana. Pelajari bagaimana penulis membuat cerita dan mengolah plot.

3. Paragraf awal yang nendang dan ending memikat 
Tidak jauh dari poin pertama, paragraf pembuka merupakan hal dasar yang akan dibaca redaktur pertama kali. Akan lanjut dibaca atau berhenti di situ dan menengok cerpen penulis lain. Untuk penulis yang masih baru usahakan menghindari dulu paragraf awal yang berisi semisal, suasana pagi-jam weker berbunyi-si tokoh terlambat, atau hari pertama masuk-tabrakan sama cowok/cewek. Jika tidak pandai-pandai mengolah jatuhnya akan klise dan kurang menarik. 

Pernah membaca cerpen dan kamu kaget atau bertanya-tanya dengan endingnya? Shock ending dan open ending. Hal ini bisa kamu lakukan dengan membuat endingnya terlebih dahulu, namun usahakan terkesan nyambung dan tidak terkesan seperti ending tempelan.

4. Pilih tema yang sedang populer atau mendekati hari-hari spesial tertentu
Ini merupakan salah satu trik ampuh. Beberapa penulis melakukan ini, contoh saja ketika banyak berita menayangkan seorang wanita yang menjadi kurir narkoba dan akan dihukum mati. Kamu bisa menulis dari sudut pandang berbeda dan mengirimkannya ke media yang rentang terbitnya seminggu sekali seperti koran. Yang kedua adalah hari-hari spesial, seperti valentine, hari raya idul fitri, natal, hari ibu dan masih banyak lagi. Kamu bisa memakainya. Namun, usahakan mengirim dengan rentang tertentu 2-4 bulan sebelum momen tersebut.

Terakhir, jika kamu ingin menulis cerpen serta mendapatkan honor, tentu pilihlah media yang profesional dan kamu kenali. Ada banyak media dan bermacam-macam. Rata-rata honor dibayarkan sebulan setelah pemuatan, namun ada pula media yang meminta kita untuk melepon dulu atau mengirimkan e-mail konfirmasi. Sebelum mengirim pastikan membaca ulang minimal 5 kali dan mintalah seorang teman untuk memberikan tanggapan pada karyamu. (Ko Chandra)


Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Back to top