Fakta Unik Dibalik Posisi Duduk Mahasiswa di Dalam Kelas

Salah satu perbedaan mahasiswa di perguruan tinggi dengan siswa yang masih duduk di bangku sekolah ialah mengenai kebebasan. Kebebasan itu berupa penggunaan pakaian oleh mahasiswa, jam perkuliahan, mengenai kerapian, dan sampai aturan yang kecil seperti posisi duduk di dalam kelas.

Bagi pembaca yang baru saja beranjak dari SMA menuju perguruan tinggi hal ini terasa betul. Sewaktu di SMA, siswa-siswi berpakaian seragam, jam sekolah sudah diatur, berpakaian rapi seperti rambut tidak boleh gondrong, perempuan tidak boleh menggunakan make up, dan biasanya posisi duduk di dalam kelas juga diatur oleh guru.

Ketika menginjak perguruan tinggi, pasti pembaca akan kaget, sebab tidak ada lagi pakaian seragam, jam perkuliahan juga tidak teratur, misalnya terkadang hanya masuk siang di hari tertentu dan di hari lain terkadang hanya masuk pagi, dan di beberapa hari terkadang tidak ada jadwal ngampus. Tidak seperti jadwal di sekolah yang masih teratur mulai jam masuk sampai jam pulang. Di perguruan tinggi, sedikit ada kebebasan di dalam kerapian, seperti sebagian menggunakan rambut gondrong, sandal jepit (meski ada yang sudah melarang), dan para perempuan tentu tidak dimarahi oleh dosen karena berpenampilan bak model ketika ke kampus.
Itulah perbedaan dunia kampus dengan dunia sekolah. Salah satu yang menarik ialah mengenai posisi duduk mahasiswa di dalam kelas. Ketika masih menjadi siswa di sekolah, masalah seperti posisi duduk terkadang masih diatur guru, seperti ada aturan rotasi dan sebagainya. Tetapi, ketika di kampus, dosen tidak akan pernah mengatur anda dalam posisi duduk. Oleh karena itu, terkadang sering dilihat banyak bangku kosong di bagian depan. Jika ada, yang duduk hanya beberapa orang saja. 

Anehnya, ada beberapa mahasiswa yang cenderung memilih posisi duduk tertentu di dalam kelas, seperti dia cenderung duduk di bagian belakang, atau ada yang hanya mencari posisi pojokan di dinding kanan atau kiri, dan di bagian depan hanya dibiarkan kosong dengan hanya beberapa mahasiswa yang berminat.
Sebagian dosen, ada yang menegur dan meminta mahasiswa agar menenuhi bagian depan agar suasana kelas semakin menarik, tetapi ada juga dosen yang acuh dan tak acuh saja sebab barangkali dosen seperti ini hanya memiliki prinsip bahwa kewajibannya hanya memberikan ilmu dan materi, sedangkan hal yang seperti itu bukanlah menjadi urusannya karena mahasiswa sudah dianggap besar dan bisa memilih menjadi diri sendiri tanpa harus perlu diatur-atur.
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis semasa kuliah, kecenderungan posisi duduk tersebut ternyata mempengaruhi karakter mahasiswa tersebut dan berdampak terhadap perilaku mahasiswa di dalam merespon perkuliahan yang diberikan oleh dosen. Beberapa hal unik mengenai posisi duduk mahasiswa di dalam kelas ialah sebagai berikut:

1. Mahasiswa yang duduk di bagian depan.
Bagian depan ini melambangkan bagian keseriusan. Mahasiswa yang duduk di bagian depan merupakan mahasiswa yang ingin mengikuti perkuliahan dengan serius. Kursi di depan dipandang bagian strategis untuk memperoleh pelajaran dengan baik, sebab jarak dosen dan mahasiswa tidak terlalu jauh sehingga jika dosen tidak menggunakan pelantang suara maka suara dosen masih terdengar jelas. Selain itu, duduk di bagian depan meminimalisir dari hal-hal yang mengganggu perkuliahan, sebab jika melakukan hal yang ganjil maka tentu diketahui oleh dosen dengan jelas. Untuk itu, bangku depan diisi oleh orang yang ingin serius, tidak jarang juga para jenius duduk di bagian ini karena mudah dikenal dosen. 

2. Mahasiswa yang suka pojokan.
Mahasiswa pojokan ialah mahasiswa yang suka duduk di dekat dinding, baik kiri maupun di kanan. Mahasiswa yang duduk di bagian ini memilih suasana aman dan tidak ingin terlibat langsung dengan dosen. Biasanya, di posisi ini mahasiswa yang bersangkutan dapat menjalani kuliah sambil melakukan aktifitas lain, seperti menggunakan handphone, menonton film dari laptop dan gadget lainnya. Tidak jarang juga suka bersandar ke dinding dan akhirnya tertidur. Mahasiswa yang duduk di posisi ini lebih memilih untuk tidak terlalu dikenal dosen. 

3. Mahasiswa yang duduk di bagian belakang.
Bagian belakang adalah bagian terjauh dari depan kelas. Untung-untung dosen tersebut termasuk dosen yang tipe bisa menguasai kelas dengan cara berjalan ke belakang, jika tidak maka bagian belakang adalah bagian yang jarang tersentuh dari pantauan dosen. Dosen biasanya lebih merespon bagian depan sehingga terkadang yang benar-benar mengikuti perkuliahan hanya bagian depan saja. Karena posisi yang jauh dari belakang tentu sulit mendengar dosen menerangkan kuliah apalagi dosennya tidak memiliki suara keras dan tidak menggunakan pelantang. 

Apalagi jika mahasiswa memiliki mata minus maka papan tulis hanya seakan tulisan kosong yang tidak bermakna. Kesempatan itulah yang biasanya sering digunakan oleh mahasiswa bagian belakang untuk mengobrol, bergosip, dan melakukan aktifitas selain perkuliahan. Kebanyakan di bagian belakang inilah para mahasiswa yang suka tidur berada. 
Sangat tidak dapat dipungkiri posisi duduk menentukan kesuksesan anda di dunia perguruan tinggi. Posisi duduk akan melibatkan perilaku lain yang akan anda lakukan selama perkuliahan sehingga akhirnya akan membentuk karakter mahasiswa itu sendiri. Maka sangat anehnya, ketika masih duduk di bangku sekolah banyak di antara siswa-siswi yang berebut duduk di kursi bagian depan, tetapi di dunia kampus sangat jarang hal itu ditemui. Bahkan, ada juga dosen dengan gaya meminta-minta agar mahasiswa mengisi kursi yang masih kosong di bagian depan. (Luh Sumilir)


Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Back to top