Ternyata Inilah Rahasia Dibalik Turunnya Hujan

Kata ‘hujan’ termasuk kata benda. Hujan memanglah benda cair yang jatuh dari langit. Hujan turun dalam beberapa bentuk, seperti gerimis, deras, dan terkadang di beberapa tempat hujan jatuh menyerupai butiran batu es. 

Sewaktu belajar IPA, kita tahu bahwa hujan merupakan siklus alam. Terdapat beberapa proses yang terjadi sebelum terbentuknya hujan. Hujan turun membasahi permukaan bumi. Ada beberapa tempat di mana hujan sering turun di sana dan ada juga tempat yang jarang mendapatkan hujan. Di beberapa tempat, hujan turun pada musim tertentu saja dan di beberapa tempat lain hujan tidak dapat diprediksi turunnya. Seperti pepatah ‘disangka panas sampai petang, ternyata hujan di tengah hari’.

Hujan adalah sebuah keberkahan. Banyak orang yang merindukan hujan. Sehingga di beberapa daerah yang tidak turun hujan, yang tanahnya sudah gersang maka manusia di tempat tersebut melaksanakan sholat sunnah meminta hujan kepada Allah SWT. Sejatinya, hujan tidak pernah turun merusak lingkungan. Ya, meski ada banjir karena hujan seperti yang terjadi di Jakarta, itu bukan merupakan akibat buruk dari hujan. Kadar hujan yang turun sebenarnya biasa saja, hanya saja tanah Jakarta yang tidak dapat menyerap air hujan karena kurangnya lingkungan hijau dan drainase air yang buruk. 

Jadi, bukan hujannya yang salah turun di Jakarta, tetapi ulah manusia juga yang tidak teratur menjaga keseimbangan lingkungan. Sebab, hujan tidak akan pernah bisa dilarang untuk turun di Jakarta, tetapi kita manusialah yang harus pandai-pandai menjaga dan melestarikan lingkungan agar hujan yang turun menjadi berkah, bukannya petaka.

Ada beberapa hal yang terkait dengan hujan.
1. Ketika hujan turun merupakan salah satu waktu di mana doa terkabul. 
Ketika hujan turun, kita mencari tempat berteduh. Ketika sedang berada di jalan tentu kita akan mencari tempat berteduh berupa halte, warung-warung, pinggir toko, dan beberapa tempat berteduh lainnya. Ketika berada di luar rumah, kita akan masuk dan berlindung dalam rumah ketika hujan turun. Di saat itulah, sejenak kita menghentikan aktifitas di luar rumah. Tentu di saat itu kita punya waktu luang maka di saat itulah momen yang paling bagus untuk berdoa.

2. Hujan merupakan nikmat bagi semua makhluk. 
Bagi tumbuh-tumbuhan, hujan adalah nikmat untuk menyuburkan tumbuhan dan menggemburkan tanah. Begitu juga dengan binatang. Manusia apalagi. Hujan adalah berkah, sebab para petani merindukan hujan apabila sawah, kebun, dan lahan pertanian mereka sudah mulai gersang. Tanah menyerap air hujan sehingga sumur yang kering kembali terisi oleh air. Bagi anak-anak, hujan adalah waktu yang disenangi untuk bermain. Anak-anak tidak segan-segan melepas pakaian mereka dan berlari-lari sana kemari bermain hujan, meski tidak jarang dimarahi oleh orang tua mereka karena bisa sakit. Tetapi, hal itu tidak mengurangi kebahagian anak-anak.

3. Hujan sumber rezeki. 
Beberpa orang justru menjadikan hujan sumber rezeki. Seperti pepatah ‘sedia payung sebelum hujan’ maka hujan juga memberikan lapangan pekerjaan bagi tangan-tangan kreatif untuk memproduksi payung. Belakangan, banyak inovasi-inovasi payung seperti model yang disesuaikan untuk anak-anak dan model yang berbeda-beda. Jadi, payung tidak hanya sekedar payung, tetapi juga sebuah seni. Begitu juga bagi orang yang bekerja membuat mantel atau jas hujan. Di musim hujan, biasanya pedagang mantel atau jas hujan kebanjiran rezeki atas dagangan mereka. Ada juga ‘Ojek Payung’ yang bermunculan di waktu hujan.

4. Hujan merupakan inspirasi manusia untuk berkarya. 
Banyak para seniman, pengarang, penulis, penyair, dan pencipta lagu yang menjadikan hujan inspirasi bagi karya-karya mereka. Banyak irik-lirik lagu yang berhubungan dengan hujan. Banyak bait-bait puisi yang mengisahkan tentang hujan. Dan banyak pula karya berupa lukisan yang melukiskan hujan. Alam merupakan sumber inspirasi primer bagi kalangan seniman, penyair, pengarang, penulis, dan lainnya.

Begitulah hujan, ia turun dalam bentuk tetesan. Sampai di tanah ia tak berbekas. Tetapi kehadirannya memberi makna pada alam dan manusia. (Luh Sumilir)


Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Back to top