Pudarnya Tradisi Surat-menyurat

Surat adalah sesuatu yang ditulis; yang tertulis; tulisan, sedangkan surat-menyurat adalah membuat surat dan menulis surat (KBBI, 2008:1395). Kebiaasan surat-menyurat menjadi tren pada zamannya sebagai media komunikasi. Sebelum bersinggungan dengan teknologi modern, surat menjadi media yang menfasilitasi komunikasi manusia yang berjauhan. Melalui sepucuk surat semua hal dapat diungkapkan oleh si penulis kepada orang yang akan menerimanya. 

Surat pada waktu itu, tidak hanya komunikasi rakyat jelata. Para kaum bangsawan, pemerintahan, dan kerajaan juga menggunakan surat untuk berkomunikasi dengan karajaan lain, baik sesama kerajaan di nusantara bahkan dengan kerajaan yang terdapat di luar nusantara. Sudah banyak ditemukan dokumen-dokumen yang tersimpan di berbagai museum tentang jalinan hubungan kerajaan di nusantara melalui surat-menyurat yang ditulis dengan aksara Arab berbahasa Melayu. Dokumen-dokumen itu menjadi barang berharga tersimpan rapi di museum-museum. Melalui dokumen tersebut, para ilmuwan dan peserta didik  dapat menguak masa lalu dengan cara menjelajahi naskah-naskah tersebut. Ilmu ini juga dikenal dengan ilmu pernaskahan.


Tradisi surat-menyurat di Indonesia sudah ada sejak tahun 1809, setelah bangsa Eropa memasuki nusantara. Bangsa Eropa mengenalkan sebuah jasa pengiriman surat yang dinamakan kantor POS.  Pada tahun yang sama, Gubernur Jenderal Herman Mu William Daendels memerintahkan membuat jalan yang kemudian diberi nama Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) dari Anyar sampai Panarukan sepanjang 1000 km.

Bagi rakyat jelata, surat juga menjadi sarana untuk menyampaikan persoalan personal berupa perasaan, rindu, cinta, dan persoalan personal lain. Surat ditulis dengan tulisan tangan. Dilihat dari segi isi, surat-surat itu ditulis dengan bahasa yang indah, dengan pemilihan bahasa mengandung sastra. Bahasa yang ditulis di dalam surat banyak yang mengandung metafora, diksi-diksi indah, dan tingginya nilai seni bahasa si penulis. Surat tersebut terdiri dari pengantar, isi, dan penutup. Bahasanya diformat dengan rapi dan berstruktur meski berisi soal perasaan.

Zaman berubah, kegamuman beralih.  Surat tidak lagi digunakan untuk menyampaikan persaan individu ke individu yang lain. Sekarang surat cenderung digunakan untuk keperluan yang bersifat resmi dan dokumen-dokumen rahasia. Seorang teman dan sepasang kekasih tidak lagi menyampaikan rindu dan kesahnya melalui surat. Jarak tidak begitu terasa jauh, waktu tidak menjadi lama lagi. 

Dengan bantuan teknologi  berupa menggunakan surat elektronik (e-mail), layanan pesan pendek (SMS), BlackBerry Messenger (BBM), twitter, dan lainnya, kita dengan cepat berkomunikasi dengan teman, keluarga, dan kekasih. Dari bentuk yang berubah, isinya pun berubah. Si pengirim  lebih to the point ketika mengungkapkan sesuatu. Bahasa menjadi bersifat langsung, cepat, dan buru-buru. Sebuah keindahan berbahasa menjadi pudar terjalin antar personal. Tidak ada lagi rasa dek-dekan seperti menunggu sebuah surat dari Pak POS karena tidak berjeda lama.

Padahal, surat tidak sekedar tradisi tulis-menulis, tetapi sebuah tradisi yang mengajarkan akan sebuah keindahan berstruktur. Seorang penulis surat secara tidak langsung diajarkan untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara-cara yang indah. Kata-kata yang tertulis dalam sebuah surat lebih leluasa dan banyak makna yang dapat disampaikan. Tidak seperti berkomunikasi melalui layanan pesan pendek (SMS) dan BlackBerry Messenger (BBM) yang memilki batasan jumlah kata yang dapat dikirim sehingga juga terbatas di dalam menyampaikan sesuatu dan tidak leluasa. 

Tradisi surat menyurat juga mengajarkan penulis untuk lebih kreatif di dalam memproduksi bahasa. Berbeda dengan pola-pola bahasa pada gadget yang diformat  seperti memiliki batasan kata yang dapat dikirim sehingga tidak bebas untuk berkreatif dan leluasa. Sebuah surat memang sampainya kepada seseorang lambat, tetapi berkesan dalam penantian. Berikut penggalan surat Khalil Gibran yang terkenal.

Dekatkan dahimu, Mariam, ya, dekatkan padaku. Ada sekuntum mawar putih dalam hatiku yang ingin kusemaikan di dekat dahimu. Betapa manisnya cinta bila mawar itu gemetar menahan malu….(Kutipan dari surat Khalil Gibran kepada May Ziadah).

Saya tenggelam di bawah cakrawala nun jauh di sana, dan di sela awan-awan senja yang bentuknya nan mempesona, muncullah sekunar bintang. Bintang Johar, Dewi Cinta. Dalam hati aku bertanya, apakah bintang itu juga dihuni oleh insan seperti kita, yang saling mencintai dan mendendam rindu…? (Kutipan dari surat May Ziadah kepada Khalil Gibran).

Jika dicermati kutipan surat di atas, terlihat memiliki estetika, diksi-diksi indah meski berupa terjemahan, dan seakan leluasa. Sekarang, surat-surat cinta seperti yang ditulis Khalil Gibran hanya menjadi sebuah catatan surat cinta yang bersejarah yang cukup dikenang dan dibaca. Kita tidak lagi berniat mencoba menjadi seorang Khalil, menulis surat cinta penuh hasrat. 

Teknologi baru hadir dengan kelebihan-kelebihan baru yang menggoda. Memang tidak menjadi suatu kesalahan menggunakan teknologi baru yang di sisi lain memang memiliki kelebihan-kelebihan dari tradisi surat menyurat. Akan tetapi, menyelam kembali tradisi yang mulai pudar merupakan sebuah langkah agar tradisi tidak dipandang  sebagai sebuah catatan sejarah. (Luh Sumilir)


Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Back to top