Pemaknaan Hidup, Novel Karya Tere Liye Wajib Baca!

Hidup tidak harus seperti apa yang kita pahami. Tidak berjalan sesuai rencana, tidak seperti yang diimpikan, namun berjalan menurut susunan takdir. Takdir merupakan kesimpulan akhir dari sebab akibat yang kita lakukan. Kebanyakan kita gagal belajar dari yang lalu. 

Lelaki berumur enam puluh tahun dalam novel ini, bernama Rehan Raujana. Dia akrab disapa Ray. Ray diberi kesempatan untuk melihat kembali apa yang telah berlalu dalam hidupnya. Dia selalu menyalahkan takdir Tuhan pada dirinya, atas apa yang telah mnimpanya. Musibah yang menimpa dirinya diartikan sebuah ujian dan takdir tuhan. Dia tidak melihat takdir itu disebabkan atas akibat perilakunya juga. 

Ray yang terbaring itu, diingatkan oleh seseorang yang berada di sampingnya. Ray menyebut seseorang itu dengan orang dengan wajah yang menyenangkan. Ray diingatkan kepada peristiwa ketika dia menjadi anak panti. Kehadirannya di panti dianggapnya sebagai takdir tuhan. Dia juga dingatkan kembali ketika menjadi preman dan mencuri di terminal. Ketika berjudi dan ketika dia mengalami keberuntungan. Kemudian keberuntungan itu hilang tak bermakna. 

Ketika tinggal di rumah singgah, dia mendapatkan kenyamanan. Dia mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkan sebelumnya. Namun, dia kembali ditendang oleh pahitnya kehidupan. Demi menyelamatkan dan menjaga anggota rumah singgah, dia membabi buta membalas kejahatan para penjahat yang telah mengganggu ketentraman penghuni rumah singgah. Dia pikir, dengan membalas itu dia telah pergi dari rasa ketakutan. 

Namun, dia salah menilai keperkasaan karena telah dapat membalas. Justru, dengan hal itu dia tidak menyadari ancaman akan datang. Ancaman itu datang kepada teman-temannya. Dia baru sadar kalau ancaman itu  menimbulkan rasa takut karena menimpa teman-temannya. 

Tak sanggup menerima keadaan, dia lari dan akhirnya memulai hidup baru. Cinta hadir di hatinya. Seorang perempuan dapat membangkitkan keterpurukannya. Dia merasa itulah kebahagiaan yang mengobati luka masa lalu. Rasa bahagia itu ternyata awal dari bencana yang besar. Dia diperbudak oleh rasa kebahagiaan yang tak berujung. Ketika dia tidak menemukan lagi ujungnya maka di situlah tuhan mengambil kembali satu persatu. Istrinya meninggal.

Kekayaan, nama baik, tak mampu mengusir kekososngan dalam hidupnya. Ketika beranjak tua, dia mengalami sakit-sakitan. Dia menyalahkan takdir. Dia menyalahkan tuhan kenapa tidak berhenti juga membuatnya menderita. Padahal bencana itu dimulai oleh sebab-sebab yang dijalinnya sendiri. Hanya saja dia tidak menyadari. Untuk itu, sebelum akhir hidupnya Tuhan mengizinkannya untuk melihat sebab-sebab yang telah dibuatnya agar dia memahami dan memaknai takdir.

Itulah kisah yang disampaikan dalam novel. Tere-Liye memaparkannya dengan unik. Dengan membacanya, tere-liye seolah-olah menjadikan pembacalah tokoh utama itu. Kita yang membaca akan tersentak sendiri dengan apa yang telah kita lakukan selama ini. Itulah kenapa sebab barangkali disetiap sub judul diawali kata ‘aku’. Tere-liye ingin mengungkapkan ‘aku’ dalam novel itu tidak hanya ‘aku’ yang telah berumur enam puluhan dalam novel, tetapi kita pembaca diajak untuk merasakan peran sebagai ’aku’. Pembaca muda dan penikmat sastra. 



  • Judul : Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
  • Penulis : Tere-Liye
  • Penerbit   : Republika
  • Tebal : 426 Halaman
  • Peresensi : Teguh Al Ikhsan









Setelah membaca ini, ada harapan tersirat yang ingin disampaikan tere-liye, yaitu bagaimana agar kita tidak menyalahkan takdir. Kita harus menghubungkan bencana yang menimpa kita dengan masa lalu buruk yang barangkali pernah kita lakukan, hanya saja kita tidak sadar. Untuk itu, perlunya kita merenung dan memikirkan apa yang telah terjadi sehingga kita dapat membuang jauh-jauh pikiran yang selalu menyalahkan takdir. (Teguh)



Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Back to top