Kenyataan Pahit yang Ku Terima di Hari Ulang Tahunku

Cerpen- Di tempat inilah aku menghabiskan hari-hari di sela kesibukan. Taman dan sebuah kolam kecil ini menjadi tempat aku berbagi cerita tentang perasaan yang terkadang serasa permen nano-nano. Senang, bahagia, tertawa, sedih, dan kecewa. Bagiku tempat ini mampu mengganti sosok yang tak pernah aku kenali semenjak aku dilahirkan. Setiap aku bertanya pada orang sekitarku mereka selalu menjawabnya, namun selalu aku merasakan keanehan dan keganjilan, seperti ada sesuatu hal yang mereka sembunyikan padaku. 

Sering juga aku bertanya pada Tuhan melalui kertas-kertas tak bersalah, “Tuhan, dimanakah dia? Engkau sembunyikan di mana? aku merindukannya Tuhan?”, itulah suara hatiku saat ini. Tak jauh dari pandangannku ibu pun berjalan mengarah ke tempatku. Aku pun langsung mengubah ekspresi wajah agar ibu tak curiga tentang apa yang aku pikirkan. 

Bagiku ibu segalanya, beliaulah yang mengajarkan aku hidup berani, mandiri, dan percaya diri. Tetapi satu hal yang tidak kusukai dari ibu ialah ketika aku menanyakan sosok ayah yang sekarang entah dimana, beliau selalu mengalihkan pikiranku. “ Anna, ini udah waktu makan siang, kamu pasti belum makan kan? Ibu sudah masak ayam kecap kesukaanmu nak!”, kata ibu padaku. Tampaknya ibu tak curiga dengan perasaanku. “syukurlah”, kata hatiku. “ Iya bu, sebentar lagi anna makan,” jawabku pada ibu. “Oh iya, ibu hampir lupa kalau kemarin sinta meninggalkan undangan pada ibu, dia mau merayakan ulang tahun yang ke 17, dia sangat berharap kamu datang”, sambung ibu. 

Mendengar kata-kata ibu membuat perasaan aku kembali hancur. Aku tau sebenarnya ibu tak tega bicara tentang acara ultah, tapi sinta adalah teman masa kecilku. Aku pun menerima undangan yang diberikan ibu. “ Anna, ibu masak dulu. Kamu segera ke ruang makan, ibu tunggu”, lanjut ibu. “ Iya bu, nanti anna menyusul”, jawabku. Undangan ini membuat aku mengingat masa lalu ketika aku selalu merayakan ulang tahun tanpa sosok ayah di sampingku. “Bagaimana mungkin aku bisa menghadiri acara sinta jika hatiku sakit serasa terluka?”, kata hati menuju meja makan. 

***
Siang itu, aku, ibu, dan adikku tina makan bersama di tempat biasa kami berkumpul. Nasi yang kumakan serasa hambar tak berasa hanya karena memikirkan sosok ayah yang selalu dirahasiakan ibu. Selesai makan kami pun bercengkrama, tak lain dan tak bukan tidak akan pernah membahas tentang sosok ayah. Terkadang aku sempat berpikir apakah ayah sudah bercerai dengan ibu? Atau meninggal duniakah? Atau aku dilahirkan ke dunia ini tanpa seorang Ayah?” entahlah“. Tiga hari belakangan ini kamu ibu perhatikan seperti menyembunyikan sesuatu, kamu lagi mikirin apa?”, tanya ibu sembari datang berkunjung ke kamarku. “Tidak bu, aku tidak apa-apa, hanya kurang enak badan saja”, tiba-tiba air mataku mulai mengenang ingin mengatakan sesuatu pada ibu. “Ibu, anna tau ibu mungkin marah dan kecewa jika anna selalu bertanya tentang ayah, tapi kali ini anna memohon pada ibu bermurah hatilah untuk bercerita tentang ayah, anna mohon bu”, air mataku mengalir tak terbendung lagi. 

Begitu pula dengan ibu. “Anna, maafkan ibu nak, mungkin belum waktunya kamu tahu tentang ayahmu, maafkan ibu” hanya itu jawab ibuku. Sungguh aku kecewa. “Ibu, dua minggu lagi akulah yang akan menginjak angka 17 tahun. Aku berharap di hari spesial aku nanti ibu akan mengundang ayah untuk menghadirinya, hanya itu kado yang kuinginkan bu, aku tak butuh setangkai bunga dari seorang pacar, bahkan kado-kado mahal pun tak kuharapkan bu, tapi tentang ayah dan kedatangan ayahlah yang aku butuhkan”.

Aku berharap ibu mau mengerti dan akan mengabulkan permintaan terakhirku di hari itu, pinta ku pada ibu. “Anna, kamu bicara apa pada ibu nak? Ibu sayang kamu, ibu tak ingin kehilangan kamu“, jawab ibu. “Ibu tak sayang padaku, buktinya ibu merahasiakan tentang ayahku, jika ibu sayang padaku berjanjilah pada tuhan bahwa ibu akan mengabulkan permintaanku di hari spesial bagiku”, jawabku sedih. “Baiklah An, mungkin sudah saatnya juga kamu tau tentang ayahmu, ibu akan ceritakan di malam sebelum perayaan ultahmu”, jawab ibu. 

***
Aku bahagia rasanya ketika ibu berkata seperti itu. Tak sabar menunggu malam di mana aku akan tepat menginjak usia 17 tahun dan di malam itu pula aku akan mengenal siapa ayahku. Malam tepat aku menginjak usia 17 tahun pun datang. Aku dengan bahagia menunggu ibu untuk datang ke kamarku dengan membawa kado terindah di hari spesialku. 

“Anna, boleh ibu masuk?” ibu mengetuk pintuku. “Iya bu”, aku tak sabar mendengarkan cerita ibu sambil menjemput ibu di depan pintu kamarku. “An, maafkan ibu nak, selama ini ibu merahasiakan sosok ayahmu dan mungkin cerita ini bukanlah kado terindah untukmu”, kata ibu. ”Maksud ibu?”, tanyaku. “Sebenarnya ayah mu..”, ibu pun terdiam. “ Maksudnya ayah akan datangkan bu di hari ultahku?”, tanyaku pada ibu.  “Tidak An, sekali lagi maafkan bu nak, ayahmu telah menghadap illahi ketika kamu dilahirkan ke dunia”. ”Maksud ibu? Anna tak mengerti dengan apa yang ibu katakan”, tanyaku meyakinkan. “Ayahmu sudah meninggal dunia An ketika baru saja engkau lahir”, jawab ibu lirih.

“Sekali lagi maaf ibu nak, memang ibu tak menceritakan kepadamu karena ibu tak sanggup jika kamu harus menerima kenyataan itu apalagi kamu tak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Ibu sayang kamu An, maafkan ibu”. “Sudahlah bu, tidak ada yang perlu Anna maafkan, ibu tidak salah”. Ketika itu dunia serasa hancur bekeping-keping dan aku menangis sepuasnya. “Tuhan, inikah kado di hari sweet seventeen ku? Apakah aku bermimpi Tuhan?“,  kata hatiku. (Annisa)

***


Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Back to top