Haruskah Cinta Membuat Kita Jadi Orang Lain ?

Kita menginginkan orang lain mencintai kita. Eh, ternyata kebanyakan kita membuat orang lain mencintai orang lain yang melekat pada diri kita. Tanpa disadari, orang lain bukan mencintai kita lagi, tetapi mencintai sesuatu pada diri kita yang hakikatnya bukan diri kita. 

Inilah yang membuat suatu hubungan tidak bertahan lama. Setelah ada orang lain mencintai kita ternyata seiring waktu kita memperlihatkan diri kita yang aslinya. Ah, selama ini dia tertipu. Selama ini dia bukan mencintai kita, tetapi mencintai peran lain yang kita mainkan. 

Kenapa ada kepura-puraan dalam cinta. Padahal cinta menuntut kejujuran. Melanggar kejujuran berarti melanggar hakikat cinta itu sendiri. Ini bukanlah pelajaran filsafat. Akan tetapi, terkadang secara tidak langsung kita sudah berfilsafat. 

Saya pernah mengamati seorang laki-laki yang bercakap-cakap dengan beberapa orang temannya. Laki-laki itu berbicara apa adanya. Saya mengingat betul warna suaranya, pilihan katanya, irama yang dikeluarkan mulutnya, serta intonasinya, saya masih ingat.  Tiba-tiba telfonnya (HP) berdering. Sayang sekali, saya tidak mengingat nada panggilannya. Nada panggilan sekarang unik-unik. Mulai dari lagu-lagu tekenal, bunyi-bunyi aneh, bunyi binatang, namun tidak ada bunyi tumbuh-tumbuhan. Bunyi air mendesir mungkin ada ya. 
Laki-laki itu mengangkat telefon (HP). Saya berani menduga bahwa yang menelfon itu kekasihnya. Sebab, ada panggilan sayang. Saya tidak akan menyebutkan panggilan sayangnya karena itu bukan kepentingan saya, lagian panggilan sayangnya agak aneh. Agak aneh bagi telinga saya.

Wah, laki-laki itu berubah total dibandingkan ketika dia berbicara bersama teman-temannya. Warna suara yang lain, irama, intonasi, pilihan katanya berlainan. Saya saja menjadi kagum apalagi perempuan yang sedang berbicara di telfon dengannya. Ah, sayang perempuan itu tidak tahu dengan kenyataan kekasihnya yang sebenar-benarnya. 
Saya bukannya baru kali itu melihat kenyataan yang seperti itu. Malahan sudah sering melihat sepasang kekasih yang berpura-pura. Tidak hanya melalui telfon, berbicara langsung saja saya pernah mendengar perbedaan ketika seorang laki-laki berbicara dengan teman-temannya dibandingkan ketika berbicara dengan kekasihnya. Ketika bersama kekasih, laki-laki tersebut menjadi orang lain. Padahal, perempuan itu sedang berbicara dengannya. Eh malah, laki-laki tersebut berpura-pura menjadi orang lain. 

Saya menjadi bingung. Apakah cinta membuat orang harus berpura-pura menjadi orang lain? Berpura-pura menutupi kekurangannya? Bukankah kekurangan itu yang harus ditonjolkan kepada kekasih, agar kekasih dapat menerima kita dengan apa adanya? Ini malah berpura-pura menjadi orang lain.

Satu hal lagi yang membuat saya bingung ialah orang yang sedang jatuh cinta atau telah mendapatkan cinta akan memasang produk-produk iklan di sekujur tubuhnya. Saya tidak punya hak melarang seseorang memakai sesuatu, tetapi menggunakan sesuatu secara berlebih-lebihan tentulah tidak baik.

Entah kenapa, waktu itu saya pergi ke kos teman. Sampai di kosnya, saya di suruh masuk ke dalam kamar. Kami (saya dan teman saya) akan pergi keluar. Namun, saya dimintanya menunggu sebentar karena dia sedang mandi. Wah, saya terkejut dengan bermacam-macam produk di atas mejanya.  Saya sadar, cinta butuh pengorbanan. Perlu banyak uang yang harus dikeluarkan untuk membeli berbacam-macam produk hanya untuk memberi senang kekasih. Ah, cinta memang mahal. 

Zaman dulu tidak ada produk-produk kecantikan yang ini dan itu, tetapi orang masih dapat menikmati hidup dengan baik. Orang-orang dulu tidak ada pengharum badan, pemutih kulit, membuat rambut berkilau, tetapi masih banyak pasangan kekasih yang berdekatan dan nyaman di samping pasangannya.

Inilah salah satu yang membuat hubungan tidak bertahan lama. Kebanyakan kita mendapatkan cinta orang lain bukan ketika  menjadi diri sendiri, tetapi mendapatkan cinta orang lain dengan keberpura-puraan.  Inilah yang membuat hubungan lambat-laut retak karena setelah lama menjalin hubungan kepura-puraan tersebut terungkap. 

Kepura-puraan tersebut terungkap ketika cinta sudah tumbuh. Kadang-kadang hal ini yang membuat hati semakin terluka. Cinta yang suci dan kekal tidak akan pernah hadir dengan kepura-puraan. Waktu akan menyeleksi dan menyisihkan cinta yang didapatkan dengan kepura-puraan. (Luh Sumilir)


Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Back to top