Hati-hati!! Ada Kepiting Vampir di Pulau Jawa

KebudayaanIndonesia.com - Sudah pernahkah anda mendengar Kepiting Vampir? Dari namanya saja mungkin anda sedang membayangkan kepiting ini memiliki gigi yang tajam layaknya seperti vampir dan suka menghisap darah manusia. Ow.. Bukan demikian ya sobat. Makhluk unik yang satu ini sangat berbeda dan tidak seseram seperti namanya! 

Meskipun hewan kelompok krustasea ini berpenampilan seram dengan cakarnya merah dan matanya yang kuning, kepiting vampir ini tidak akanmenghisap darah Anda. Bahkan kepiting ini merupakan salah satu hewan peliharaan yang semakin populer, karena terlihat sangat lucu sebagai hewan peliharaan yang siap beraksi di aquarium anda.

Ada dua jenis spesies kepiting yang ditemukan oleh para ahli, yaitu Geosesarma dennerle dan Geosesarma hagen. Kepiting ini ditemukan pertama kali di area tepian sungai Pulau Jawa. Ciri khasnya yaitu memiliki mata berwarna kuning dan selama bertahun-tahun mereka bersembunyi di akuarium rumah.  Dari penelusuran yang dilakukan oleh tim ahli, kepiting air tawar ini hidup di sungai-sungai di pulau Jawa, Indonesia.
Geosesarma dennerle dan Geosesarma hagen
Karena dengan warna tubuhnya yang berwarna cerah dan memiliki mata berwarna kuning menyerupai vampire, akhirnya kepiting ini diberi nama Kepiting Vampir.  Hingga sekarang kepiting ini banyak dilestarikan dan menjadi hewan peliharaan karena dapat anda temukan diberbagai toko hewan selama sepuluh tahun belakangan ini. Seperti yang dikatakan  oleh ahli akuarium professional Christian Lukhaup, dari Waiblingen Jerman kepada National Geographic, meskipun begitu,  masih sedikit yang tahu dimana habitat asli hewan ini. kepada National Geographic.

Dari warna tubuh kepiting vampire yang berwarna cerah ini ternyata warna tersebut memiliki fungsi yang vital. Hal ini dapat berfungsi sebagai interaksi sesama kepiting lain sabagai alat komunikasi. Christian mengungkapkan ini adalah sebuah tahap evolusi yang menarik. Karena saat kita temukan di daerah lain, kepiting jenis ini memiliki warna yang berbeda pula.

Hingga sekarang tim para ahli telah menemukan 53 spesies genus Geosesarma. Hal ini memungkinkan jenis hewan ini akan bertambah jumlahnya karena masih ada yang belum teridentifikasi sekitae setengah lusin ekor kepiting. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Raffles Bulletin of Zoology. (tya)



Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Back to top